Skandal China Palsukan Emas Daging Beras Bahkan Pasangan


China punya segudang skandal besar yang cukup menggemparkan dunia. Mulai dari sewa pasangan, beras plastik, hingga yang baru adalah skandal terkait cadangan emas resmi Negeri Tirai Bambu tersebut.

Dikutip dari Nikkei Asian Review, skandal pemalsuan emas ini terjadi pada lebih dari 4% cadangan emas resmi di China. Sebanyak 83 ton emas murni yang disimpan perusahaan pemroses emas swasta terbesar di provinsi Hubei, yakni Wuhan Kingold Jewelry Inc pada Juni disinyalir palsu.

Padahal jumlah emas tersebut digunakan untuk mendukung 16 miliar yuan (Rp 32,2 triliun) pinjaman. Setara dengan 22% produksi emas tahunan dan 4,2% dari cadangan emas China pada 2019.

Skandal berawal dari lebih dari selusin lembaga keuangan China, meminjamkan 20 miliar yuan (Rp 40,2 triliun) selama 5 tahun terakhir ke Kingold, yang sahamnya terdaftar di bursa saham Nasdaq di New York. Mereka menjamin dengan emas murni dan polis asuransi untuk menutupi kerugian.


Namun berdasarkan laporan tersebut, batangan emas yang digunakan sebagai agunan ternyata bukan emas asli. Melainkan tembaga berlapis emas.

Emas palsu mulai terungkap saat perusahaan Dongguan Trust Co Ltd melakukan likuidasi agunan Kingold untuk menutupi utang, yang gagal bayar pada Februari 2020. Menurut laporan, Kingold gagal membayar investor dalam beberapa produk kepercayaan pada akhir 2019.

Alhasil, perusahaan Minsheng Trust, Dongguan Trust, dan kreditor kecil Chang'An Trust mengajukan tuntutan hukum terhadap Kingold. Termasuk menuntut PICC P&C untuk menutupi kerugian mereka.

PICC Property and Casualty Company Limited (PICC P&C) adalah perusahaan asuransi non-jiwa terbesar di China daratan yang didirikan pada tahun 2003. Pihak ini menolak untuk mengomentari masalah ini, tetapi mengatakan kasus ini dalam prosedur pengadilan, menurut laporan media Caixin.


Tak Hanya Tembaga Berlapis Emas, Beras pun Dicampur Plastik

Pada tahun 2015, sempat merebak isu beras plastik yang jika dimasak akan menunjukkan nasi dengan sifat seperti plastik. Namun rupanya isu beras palsu sudah berhembus cukup lama di dunia.

Dikutip dari BBC Internasional oleh DetikHealth, isu beras plastik diduga awalnya bermula di China pada tahun 2010 silam. Saat itu beredar rumor di media sosial tentang bagaimana beras plastik diproduksi dan dicampur dengan beras asli untuk mengelabui konsumen.

Dalam satu kasus, ada perusahaan China mengeluarkan beras biasa tetapi dapat dimakan sebagai biji-bijian "Wuchang" premium. Kemudian pada tahun 2011, muncul laporan bahwa beras diproduksi dengan kentang dan getah industri.

Isu pun terus berkembang hingga muncul laporan tidak terkonfirmasi yang menyebut bahwa telah diproduksi sejumlah besar kepingan plastik yang dijual sebagai beras. Rumor itu semakin diperparah ketika seorang pejabat asosiasi restoran Cina memperingatkan bahwa makan tiga mangkuk "nasi plastik" sama dengan makan satu kantong plastik.

Rumor beras plastik terus beredar menyebar membuat keresahan di beberapa negara yang masih mengimpor beras, termasuk Afrika, India, dan tak terkecuali Indonesia.

Namun, menurut Jurnalis Prancis Alexandre Capron, ada unsur kesengajaan di balik isu beras plastik. Diyakini ada alasan proteksionisme dan ketidakpercayaan pada beras impor, sehingga beberapa orang sengaja menyebarkan isu palsu.

Menurut Capron, beberapa oknum, yang dengan sengaja membagikan video palsu yang memperlihatkan jika beras dari plastik dapat terpental seperti bola, melakukan hal itu untuk mendorong konsumen membeli lebih banyak beras yang ditanam secara lokal.

"Rumor-rumor seperti ini lebih populer di negara yang masih sangat bergantung pada beras impor seperti Pantai Gading dan Senegal. Rumornya cukup besar sehingga pemerintah setempat terdorong untuk membuat pernyataan langsung... Bahwa tidak ada beras plastik," ujar Capron.

Setelah Beras, Daging pun Ikut Dipalsukan

Pada Oktober 2019 silam, Fitch Solutions mengatakan permintaan China untuk daging palsu alias tiruan, naik di tengah minimnya pasokan daging babi domestik dan mahalnya harga daging babi hingga 94%.

Daging palsu merupakan alternatif pengganti daging asli yang terbuat dari tahu dan gandum. Fitch percaya mahalnya harga babi di China akan membuat masyarakat beralih ke daging alternatif tersebut.

Di China, daging babi merupakan makanan pokok di meja makan. Namun ketika muncul wabah demam babi Afrika, pasokan daging babi tertekan sebab masyarakat tidak ingin mengkonsumsi daging babi berpenyakit. Akibatnya, China memusnahkan 1,17 juta babi yang berada di negara mereka.

Padahal, China adalah salah satu konsumen daging babi tertinggi di dunia, dengan permintaan daging yang tinggi secara historis di sana. Negara itu juga merupakan produsen daging babi terbesar di dunia pada 2018.

Bahkan China dikabarkan menyumbang sekitar 46% dari total konsumsi daging babi dunia, menurut data Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Pasangan Palsu, Kenapa Tidak? 

Dari makanan dan emas, kita beralih ke hubungan percintaan. Di China, tak perlu pakai cinta jika ingin punya pasangan. Kamu bisa sewa pasangan melalui internet dan fenomena sewa pacar ini mulai marak di China pada 2015 silam.

Pada saat itu, pencarian online dengan kalimat 'rental pacar' meningkat sampai 884% di tahun 2013, dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada tahun baru China, orang-orang berkumpul dengan keluarga masing-masing. Nah, hal ini menjadi tekanan bagi para perempuan single tapi sudah cukup umur untuk menikah, sebab orang tua atau keluarga biasa menanyakan kapan mereka akan ke pelaminan. Kultur ini mirip dengan Indonesia.

Salah satu website e-commerce Taobao menawarkan pacar sewaan bagi para perempuan single tersebut. Harganya bervariasi, mulai Rp 1 jutaan sehari sampai puluhan juta.

Penyewa mungkin akan dikenai biaya tambahan jika diminta aktivitas macam-macam. Seorang pria yang menyewakan diri sebagai pacar di situs itu misalnya, meminta tambahan biaya sekitar sejuta jika diminta menemani penyewa mengunjungi keluarganya.

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim