Jatuh Cinta???






Ibnu Hazm al-Andalusi adalah ulama mazhab Maliki yang lahir di Cordoba sebuah kawasan yang saat ini berada di wilayah Spanyol. Ia lahir pada tahun 384 H/994 M. Ibnu Hazm menguasai banyak sekali cabang ilmu agama mulai dari tafsir, hadis, ushul fikih, hingga sastra. Karyanya tentang cinta dianggap paling representatif mengulas persoalan ini dibandingkan yang lainnya.
Pasalnya, ia tidak hanya mengulasnya dari dimensi sufistik yang paling dalam, namun juga dari tanda jatuh cinta lahiriah yang sederhana. Tulisannya yang berjudul Thauq al-Hamamah fi al-Ulfah wal Ullaf berisikan syair-syair, cerita-cerita, kaidah, dan nasehat-nasehat cinta cukup menarik untuk di ketengahkan di sini.
Menjelaskan tentang hakikat cinta, ia memulainya dengan ungkapan yang cukup menarik. Ibn Hazm mengatakan:
الحب – أعزك الله – أوله هزل وآخره جد. دقت معانيه لجلالتها عن أن توصف، فلا تدرك حقيقتها إلا بالمعاناة. وليس بمنكر في الديانة ولا بمحظور في الشريعة، إذ القلوب بيد الله عز وجل
Cinta, kiranya Allah senantiasa memuliakannya, mulanya adalah canda, dan akhirnya adalah kesungguhan. Cinta memiliki makna yang dalam, indah dan agung. Tiada kata yang kuasa melukiskan keindahan dan keagungannya. Hakikatnya tidak dapat ditemukan kecuali dengan segenap kesungguhan penjiwaan. Cinta tidak dilarang atau dimusuhi oleh syariat karena hati manusia berada di tangan Allah yang Maha Agung.
Dalam pernyataan pembuka tersebut ada semacam pengakuan Ibn Hazm, bahwa cinta adalah sesuatu yang luhur sesuatu yang dikaruniakan bukan sebuah kesengajaan yang dibuat-buat. Oleh sebab itu bukan wilayah syariat untuk melarang cinta yang jatuh ke dalam setiap insan. Ada keterbatasan bahasa dan kata untuk mendeskripsikan keluhuran cinta karena setiap rasa dan bahagianya sangat kompleks. Ibn Hazm menyebut bahwa cinta meliputi seluruh manusia, bahkan khalifah-khalifah atau imam-imam yang agung yang sepertinya malu-malu untuk mengungkapkan kata cinta pun pernah mengalaminya, ia menyebut beberapa tokoh Andalusia kala itu seperti ‘Abdurrahman bin al-Hakam yang mencintai Daja’, al-Hakam bin Hisyam yang mencintai Tharub, dan banyak lagi yang lainnya.
Menurut Ibn Hazm, cinta memiliki tanda-tandanya (‘alamat al-hubb). Ini dapat diketahui melalui beberapa tanda yang muncul dalam diri seseorang.
Yang pertama adalah idman al-nadzar, kata idman dalam bahasa Arab berarti kecanduan, atau bisa diartikan pandangan mata yang tidak teralihkan memandang pujaan hati. Mata adalah pintu gerbang jiwa manusia, dari mata rahasia jiwa dapat diungkap dan pesan jiwa beserta kedalaman isinya dapat disingkap. Seringkali dapat dilihat orang yang tengah jatuh cinta, pandangan matanya selalu tertuju kepada orang yang dicintainya, ia tidak mau berpaling walau hanya sekejap. Ibn Hazm dalam kitabnya menyenandungkan sebuah syair terkait hal ini.
Selain keindahanmu, tiada persinggahan
Bagi mata yang menatapmu tiada hentinya
Kau serupa berbagai pengakuan
Tentang indahnya intan permata
*****
Kupendarkan tatapan mataku
Mengikuti tatapan matamu
Kuikuti dirimu selalu
Seperti manis mengikuti madu
Kedua, selalu mendengarkan dan menuruti orang yang dicintai (al-iqbal bil hadits). Orang yang jatuh cinta selalu melayani perbincangan orang yang dicintainya. Ia nyaris tidak melayani orang lain selain yang dicintainya. Ia mengiyakan seluruh pembicaraan yang terkasih bahkan ketika itu sesuatu hal yang mustahil dan di luar nalar manusia.
Ketiga, cenderung selalu ingin dekat dengan orang yang dicintainya (al-isra’ bi al-sair nahwa al-makan alladzi yakunu fihi). Ia selalu antusias untuk dekat dengan orang yang terkasih, di manapun dia berada. Ia lebih tertarik untuk meninggalkan kegiatan yang menjauhkannya dengan kekasihnya. Ia tidak lagi percaya dengan ucapan yang lainnya yang menjauhkannya dengan pujaan hati.
Keempat, perasaan gugup atau kebahagiaan yang terpendar ketika tiba-tiba bertemu dengan kekasihnya (al-rau’ah tabdu ‘ala al-muhibb ‘inda ru’yah man yuhibb faja’ah). Seringkali orang yang tengah jatuh cinta merasa gugup ketika berpapasan dengan orang yang dicintainya, atau bahkan hanya mendengar namanya saja seseorang akan merasakan getaran hebat di sekujur tubuhnya.
Kelima, selalu ingin tampak baik di mata yang terkasih, meskipun itu tidak biasa ia lakukan (an yujawwida al-mar’u bi badzli kulli ma kana ‘alaihi mimma kana mumtani’an bi hi qabla dzalika). Cinta merubah orang yang kikir menjadi sangat dermawan, seorang pendiam menjadi sangat betah berbicara, bahkan orang yang memiliki tabiat yang sangat buruk menjadi sangat baik, dan merubah segalanya untuk yang terkasih. Itulah cinta menurut Ibn Hazm. Tanda-tanda itu akan muncul dalam diri orang yang sedang jatuh cinta, sebelum cinta itu menjadi-jadi seperti bara api yang berkobar-kobar.
Keenam, sikap lahiriah yang muncul ketika dua orang kekasih sedang bersama-sama. Ibn Hazm dalam hal ini hanya menjelaskan bagaimana seorang sedang jatuh cinta, bukan tengah menjelaskan batasan syariat yang boleh dan tidak boleh. Oleh sebab itu, sikap-sikap lahiriah seperti banyak isyarat rahasia antara dua sejoli, atau bersender ketika duduk berdua adalah salah satu tanda lahir bahwa seseorang sedang jatuh cinta.
Ketujuh, selalu ingin mendengar nama pujaan hatinya, ia senang nama kekasihnya diperbincangkan (an naka tajidu al-muhibb yastad’i sima’ ismi man yuhibb). Fenomena ini salah satu yang muncul ketika seseorang tengah jatuh cinta, membuat orang yang makan dan minum menghentikan kegiatannya hanya untuk mendengar nama sang kekasih.
Kedelapan, orang yang jatuh cinta gemar melamun menyendiri dan sering mengalami insomnia. Banyak penyair Arab yang menyebut orang yang jatuh cinta sebagai berikut:
“Orang yang jatuh cinta adalah para penggembala binatang, mereka suka menghitungnya sepanjang malam.”
Kesembilan, adalah munculnya kepedulian dan rasa curiga yang berlebihan ketika sang pujaan hati bersama dengan orang lain. Setiap gerak dan gerik kekasihnya akan diawasi dan diperhatikan dengan sekasama. Ini adalah sebuah sikap wajar bagi orang yang tengah jatuh cinta.
Begitulah Ibn Hazm mendiskripsikan cinta dan menjelaskan tanda-tanda ketika seseorang sedang jatuh cinta. Tidak ada keharaman bagi orang yang jatuh cinta, namun perbuatan yang ditunjukkan setelah itu yang membuatnya dilarang. Wallahu a’lam.

Komentar

Archive

Formulir Kontak

Kirim